Ada sebuah khiasan, dimana berkata 'Tuhan memiliki 3 jawaban untuk manusia. 'Ya', 'tidak' dan 'tunggu' dimana dalamkhiasan itu menjelaskan bahwa jika jawabannya 'ya', berarti memang kita memang siap untuk itu. Jika 'tidak' kita diminta untuk lebih berusaha lagi dan jika 'tunggu' Tuhan mengajarkan kita untuk bersabar untuk menanti akan sesuatu yang kita harapkan itu.
Ada juga dalam sebuah radio mengatakan bahwa 'sabar' dalam setiap hal yang kita lakukan adalah sebuah tindakan gar kita siap atau mempersiapkan diri kita kepada sesuatu hal yang akan datang itu.
Seperti dalam post sebelumnya lagu 'a time for love' by Jamie Cullum. Dimana menjelaskan semua ada waktunya, apalagi untuk cinta. (Jujur sebenernya gue, nggak gitu mudah percaya dengan kata 'cinta', tapi sering sakit hati karenanya)
Adanya waktu untuk tersenyum... Burung bernyanyi... Dan bergandengan tangan
Adanya waktu untuk termenung... Mendaki gunung... Dan menangis akan berpisahan
Saat ini mungkin yang gue rasain adalah capek. Setelah hampir satu tahun bersikap entah benar atau tidak, dimana rasanya gue bermain dengan seorang anak kecil. Dimana semua tindakan dan langkah seperti sebuah taktik yang harus dipergunakan secara baik-baik. Sepertinya semua itu sudah cukup dimana rasa sayang dan cinta itu menjadi tanda titik untuk istirahat, walaupun untuk selamanya. Seharusnya rasa ini bukan untuk dipermainkan, bukan untuk dipikirkan, namun dipertimbangkan. Satu tahun ini tindakan gue selalu menjadi sebuah tindakan yang salah, entah bagi sekeliling gue ataupun untuknya. Entah jawaban gue 'ya', 'tidak', atau 'tunggu'... Tapi gue capek dengan itu...capek dengan satu tahun yang gue tahu tidak ada titik jelasnya. capek dengan cinta...
Sekarang ...
Kembali lagi gue dipusingkan dengan hal ini, dimana gue masih ngerasain capeknya cinta. Capeknya mikir lagi sebuah strategi. Sekarang gue masih muak dengan sikap dan tutur cara cinta. Gue belom siap lagi buat menghadapi semua itu. Bukan karena sebuah egoisme, tapi karena gue butuh saat untuk menghirup nafas lega setelah satu tahun gue ngerasain baik dan buruk dan busuknya cinta. Gue kembali lagi ngalamin masa trauma akan hal ini. Bukan maksud dan kata untuk menyakiti orang lain, karena aku tahu betul bagaimana rasanya sakit begitu luar biasanya. Tapi ini bukan waktu gue... Ini bukan masa gue... Bukan masa gue untuk mencinta dan bercinta... Mungkin Tuhan ngasih gue waktu untuk menjalani hidup seperti apa yang gue mau. Walaupun sebenernya dulu gue berpikir cinta hanya 'hidangan sampingan' dimana tidak perlu kita miliki dimana 'hidangan utama' adalah pekerjaan, teman, keluarga, dan sosial.
Ini juga bukan waktu gue dan cowok itu karena satu tahun berjalan, baik-buruk dan busuk tidak ada yang menyatukan. Satu tahun hanya menjadi 'lem kertas' yang terpisahkan juga dengan waktu itu sendiri. Gue dan cowok ini juga belum memiliki masanya, dimana kita hanya dua orang yang haus akan perhatian. Dimana sesuatu tidak berdasarkan hal yang tidak pasti.
Ada masanya musim panas... Musim gugur... Musim dingin... Dan musim semi...
Dimana musim dinginku telah berakhir, namun musim semiku tiada pula tak ingin ku mulai masanya...
Masih cukup terasa dendam dan amarah ini...
This is not my time...
Monday, 22 June 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment