Sunday, 21 June 2009

bahasa ibu vs. bahasa bapak

'Bahasa menunjukkan bangsa' itu yang dikatakan pak Slamet Rahardjo dalam materi perkuliahannya. Lagi-lagi masih menyangkut Mas Jay, yang dengan lucunya beliau berkata bahwa dalam sebuah pertemuan orang-orang periklanan dan dimana mereka semua orang Indonesia, namun mereka semua berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Sesuai dengan apa yang telah di katakan oleh Pak Sudjiwo Tejo dimana sekarang kebanyakan film atau media sekarang sering membaca huruf 'J' menjadi terdengar 'zhe' (seperti huruf 'J' dibaca dalam bahasa Prancis) entah itu karena alasan apa. Ini mengingatkan gue akan beberapa waktu yang lalu dimana sebuah media menyebutkan bahwa sekarang bahasa Indonesia sekarang sudah di Inggris-inggriskan, banyak komunikasi dalam film atau iklan memasukkan kata-kata bahasa Inggris dalam percakapan yang sebenarnya dalam bahasa Indonesia. entah apakah itu menjadi populer karena makin berkembangnya kebudayaan kita, atau tidak. Apakah salah dengan sistem kita yang 'open culture', sehingga kita membuat semua atau menerima semuanya tanpa saringan tertentu. 
kata Bpk Slamet Rahardjo, di film-film horror Indo sekalipun para tokoh utama ngomongnya lo-gue, tapi ketika 'setan'nya dateng ngomongnya pake bahasa Indonesia yang bener. Jadi pertanyaannya, apa kita perlu jadi setan dulu baru bisa ngomong bahasa Indonesia yang baik dan yang benar? 
Jadi begini, gue rasa pasti kita semua pernah ngerasain. Apalagi dari tahun 1998 sampai sekarang masih ada sekolah yang memaksakan murid-muridnya untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Gue tau kalo itu memang sebuah hal yang mengajak kita berkembang, tapi sepertinya menjadi suatu hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh para tokoh tersebut. OK, kalau yang baru gue bilang bisa bertentangan (maksudnya, tidak bertentangan dengan apa yang kita bahas), tapi apakah karena kita dipaksa untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris tersebut, kita menjadi terbiasa dan bahkan lupa kalau kita sedang berbicara dengan orang Indonesia. Jikalau sekarang kalau kita tidak dipaksa untuk berbahasa Inggris, tapi kita berkomunikasi dengan bahasa tersebut, dengan sesama orang Indonesia, apakah salah? tidak. Tapi bukankah hal tersebut menjadi hal yang aneh? Karena kita paham betul bahasa ibu kita sendiri, tapi kita menggunakan bahasa si bapak sam. Hal yang lucu adalah beberapa hari yang lalu ada seseorang (yang gue 'gak kenal sama sekali) yang memaksa gue buat ngasih nomor hp Mitha D'virgin (don't know who the heck she is), walaupun udah gue bilang berkali-kali supaya tidak ganggu gue,dia masih aja. Sampai akhirnya gue ngomong :' rasanya gue barusan ngomong pake bahasa Indonesia dimana gue yakin secara pasti lo ngerti 100%' (cukup dalam sih buat menghina orang) jadi ... Sebenernya orang Indonesia ngerti ngga sih arti bahasa kita sendiri? Apa terlalu maju jadi ngertinya cuman bahasa bapak Sam? Atau merasa paling modern diantara semua? 
Kembali lagi ke Mas Jay, dimana beliau juga menjelaskan setidaknya kita bangga dengan bahasa kita sendiri. Sama seperti Jepang ataupun Prancis yang bangga dengan bahasanya sendiri, tapi ada juga beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka kolot dengan tidak mau mengenal bahasa internasional. Intinya sebenarnya kalau menurut saya, tidak ada salah ataupun yang benar. Apakah sekarang lebih asyik berkomunikasi dengan bahasa bapak sam? Itu semua kebebasan kita sendiri, tapi apakah dengan menjadi mengenal atau berkomunikasi dengan bahasa bapak, kita bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dengan baik? Sepertinya tidak juga. Yang ada malah makin parah iya! Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang ke Inggris-Inggrisan. 
Ada lagi yang membuat gue bingung dimana apakah masyarakat Indonesia terpengaruh dengan Cinta Laura? Dimana dia sering berbicara dengan aksen Inggris, dan terkadang bahkan juga mencampurkan kata-kata Inggris dalam komunikasinya. Cinta Laura sendiri juga menjadi icon yang digemari oleh beberapa masyarakat, masyarakat muda dimana kebanyakan mungkin perempuan-perempuan muda. Apakah dengan begitu mempengaruhi tingkah laku mereka, dimana mereka akhirnya mengikuti tingkah laku sang icon? Jadi dengan begini bisa disimpulkan bahwa bahasa Indonesia bisa dikendalikan oleh bocah berumur 15 tahun? Sekali lagi seperti di atas pembuka post ini 'Bahasa menunjukkan bangsa' itu yang dikatakan Pak Slamet Rahardjo. Apa bangsa kita? Siapa bangsa kita? Berkembangkah? Atau mundurkah? Kita semua menjadi pelaku....

No comments:

Post a Comment